Jumat, 14 September 2012

Unsur-unsur Kesuksesan Studi Dalam Islam


. Sifat-sifat penuntut ilmu dalam islam dan pengaruhnya dalam mewujudkan prestasi ilmiah

       Islam memandan para penuntut ilmu sebagai para pemimpin masa depan. Penuntut ilmu yang shaleh juga merupakan pondasi masyarakat shaleh, maju dan berperadaban. Yang dimaksud dengan penuntut ilmu dalam islam adalah sosok pelajar yang berusaha menuntut ilmu pengetahuan yang terpuji dan bermanfaat menurut syari’at untuk kepentingan umat manusia. Sifat-sifat para penuntut ilmu yang sukses antara lain :

1. Berniat dengan ikhlas
      Yaitu penuntut ilmu yang meniatkan usahanya dalam mencari ilmu itu untuk beribadah, taat kepada Allah, dan menjalankan kewajiban menuntut ilmu.

2. Ketakwaan dan keshalihan
        Yaitu seorang penuntut ilmu harus berpegang pada sifat-sifat Allah yang bertakwa. Allah SWT berfirman : “..........dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah : 282)

3. Menghindarkan diri dari kemaksiatan

4. Tawadhu
       Seorang penuntut ilmu tidak boleh takbbur kepada ilmu, guru atau kepada siapapun. Karena hal itu, mengantarkannya kepada kebodohan. Dasarnya adalah firman Allah SWT : “ dan tidakkah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Israa:28)

5. Menghargai dan menghormati ilmu
      Seorang penuntut ilmu harus menghargai dan menghormati gurunya, hingga meskipun gurunya itu non muslim. Karena seorang guru adalah simbol dan nilai. Allah berfirman tentang kedudukan para ulama sebagai berikut : “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah : 11)

6. Disiplin dan pandai memanfaatkan waktu
    Diantara sifat orang menuntut ilmu adalah pandai mengatur waktunya. Karena waktu adalah kehidupan, sementara kedisiplinan merupakan dasar bagi kesuksesan dan keberhasilan. Dan salah satu ayat-ayat Allah dalam penciptaan semesta ini adalah keteraturan.

7. Pandai belajar

8. Berteman dengan orang yang tepat
       Seorang penuntut ilmu harus pandai memilih teman yang shaleh,yang dapat membantunya dalam masalah urusan agama dan dunia serta menjauhi diri dari berteman dengan orang-orang yang senang berbuat dosa. Seperti firman Allah SWT : “Dan bersabarlah kamu bersama-sama denagan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi : 28)

9. Menggunakan perangkat modern

B. Sifat-sifat guru yang efektif menjadi panutan dalam islam dan perannya dalam mewujudkan kesuksesan diri 


1. Ikhlas dalam menyampaikan risalah pendidikan
       Keikhlasan pendidik akan mengantarkan kepada kesuksesan murid yang dididiknya. Firman Allah SWT : “.......akan tetapi (Dia berkata) : “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani. Karena selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Al-Imran : 79)

2. Bersifat amanah dalam menyampaikan ilmu pengetahuan
    Ilmu pendidikan dalam pandangan seorang guru yang pendidik adalah sebuah amanah, yang diwajibkan oleh ALLAH SWT untuk disampaikan kepada seluruh penuntut ilmu secara sempurna tanpa dikurangi dan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Jika seorang guru menahan ilmunya maka ia menjadi seorang penghianat terhadap amanah. Firman Allah SWT : “sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hkum diantara mausia supaya kamu menetapkan dengan adil...” (An-Nisa:58)

3. Menguasai ilmu yang diajarkan

4. Menjadi panutan yang baik
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab:21)

5. Mempunyai pribadi yang kuat
      “padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah,bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munaafikun : 8)

6. Beramal dengan ilmunya
      Diantara sifat pendidik yang ideal adalah dia menerjemahkan ilmu pengetahuannya ke realitas praktis baik deangan dirinya sendiri ataupun melalui orang lain. Firman Allah SWT : “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shafft:3)

7. Modern

8. Terus melakukan penelitian
   Diantara kewajiban pioniritas seorang pendidik adalah terus melakukan penelitian dan pembangunan, baik oleh dirinya sendiri maupun dengan bekerja sama dengan lembaga. Firman Allah SWT : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-taubah:122)

C. Beberapa ilmu yang bermanfaat dalam islam dan perannya dalam mewujudkan kesuksesan

       Diantara unsur kesuksesan pendidikan adalah beberapa ilmu pengetahuan yang mengantarkan kepada petunjuk, cahaya, dan kebaikan bagi umat manusia. Diantanya :

1. Ilmu-ilmu syariah, yaitu ilmu yang dihsilkan dari wahyu yang dibawa oleh rasulullah SAW yang terkumpul dalam Al-Qur’an, selain itu sunnah nabi yang shahih. Firman Allah SWT : “ keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab, dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl :44)

2. Ilmu-ilmu keduniaan, yaitu ilmu yang berhubungan dengan perkara dunia dan yang dihasilkan oleh pikiran manusia dan dicapaioleh akal dan percobaan.
Ilmu-ilmu keduniaan yang terpuji yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan maslahat manusia di dunia, (ilmu kedokteran,berhitung,dan perdagangan)
Ilmu-ilmu manusia yang tertolak, yaitu ilmu yang tak menghasilkan manfaat bagi manusia dan negar, melainkan mengantarkan manusia pada kerusakan. Ilmu ini adalah ilmu sihir, perdukunan dan lainnya. Islam mengharamkan untuk mempelajari dan mengajarkannya.
Kandungan tentang ilmu-ilmu agama dan ilmu kehidupan :

a. Kandungan ilmu-ilmu agama
       Dr. Yusuf al-qaradhawi berkata dalam bukunya ar-Rasul al-Mu’allimin yang berbunyi : “ilmu agama hendaknya menjadi ilmu wajib yang harus dipelajari oleh setiap muslim dan muslimah, dengan membacanya disekolah, kuliah, di masjid, dan melalui berbagai media yang berbeda yang beerbeda. Ini adalah suatu keharusan bagi seorang muslim dalam agamanya, dan mempelajarinya adalah fardu ain baginya.” Ilmu-ilmu agama terdiri dari :
Ilmu akidah : berfungsi untuk menguatkan akidah dan meluruskan dari penyimpangan dan kesalahan.
Ilmu akhlak : berfungsi untuk menguatkan akhlak
Ilmu ibadah : berfunsi untuk menjelaskan ibadah yang shahih dan yang fardu
Ilmu muamalah : berfungsi mengendalikan hubungan antar manusia
b. Kadungan ilmu-ilmu umum
Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata : “semua semua ilmu yang diperlukan untuk mengatur urusan dunia ini”
Said Hawa berkata : “semua ilmu yang dibutuhkan oleh umat islam dan ilmu-ilmu pengetahuan itu terus bertambah luas dan berkembang dan setiap zaman menghasilkan ilmu pengetahuan tertentu.
Dr. Yusuf al-Qardawi berkata : “ semua yang dibutuhkan oleh jamaah muslimin didunianya, seperti fisika, kedokteran, teknik, matematika, kimia, ilmu alam, geologi dan lainnya.

10 Nasehat Untuk Penuntut Ilmu


 Penuntut ilmu mempunyai kedudukan yang mulia di mata islam, Allah berfirman yang artinya : “katakanlah, adakah sama-sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?’ sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9)

10 nasehat untuk penuntut ilmu
Bertakwalah kepada Allah dan ikhlaskan niat, niscaya Allah akan membuka pintu pemahaman kepada dan akan mengerjakan padamu apa yang belum kamu ketahui serta mempermudahkanmu menuju jalan prestasi.
Berakhlak dengan akhlak yang mulia. Diantaranya : cinta damai, tawadhu, sabar, rajin, bersungguh-sungguh serta berjuang, karena semua itu adalah diantara motif untuk paham, hafal, dan prestasi.
Perbaiki hubunganmu dengan teman-temanmu dan hubunganmu dengan para gurumu dalam rangka memperkuat ikatan cinta, persaudaraan, kerjasama, serta solidaritas.
Tentukan targetmu, buatlah rancangan pada waktumu, aturlah waktu belajarmu, karena semua ini akan mempersiapkanmu untuk belajar secara produktif.
Tekunlah belajar, pergunakanlah teknologi modern sebagai alat bantu guna menjadi pelopor dan memegang tonggak kepemimpinan. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl:128) 
Bergegaslah untuk selalu mengahdiri pelajaran, karena ini adalah diantara jalan menuju kesempurnaan dalam memahami, kecepatan dalam mengingat, dan ketepatan dalam menjawab soal.
Berikan penyegaran pada jiwamu, perhatikan kondisi kesehatanmu, karena ini adalah syarat untuk memperbaharui semangat demi menuju belajar yang produktif.
Bersamalah dengan orang-orang yang shaleh dan jauhilah berkawan dengan orang-orang yang fasik, karena membantumu untuk taat dan takwa kepada Allah, juga membantumu untuk belajar.
Percayalah pada dirimu sendiri, bertawakkallah dan berlindunglah kepada Allah dari godaan syetan, karena hati yang berdebar tidak baik dalam mengatur alur pembicaraan dan tangan yang sedang gemetaran tidak akan mengerti maksud si lawan bicara, serta akal nyang sedang buyar tidak baik untuk berfikir.
Kurangi rasa tajutmu pada ujian, pertajam semangatmu, bertawakkallah kepada Allah, perbanyak dzikir kepada Allah sekaligus berdo’a, semuanya ini merupakan di antara faktor kesuksesan dalam ujian.

Pengembang Kiat Belajar


Pengembangan Kegiatan Belajar Sangatlah penting untuk meningkatkan dunia pendidikan, di indonesia, dengan ada nya pengembangan kegiatan belajar ini, siswa sangat terbantu dalam belajar. ada pun yang harus di perhatikan sebagai berikut :


A. Kesalahan-Kesalahan Umum Dalam Proses Belajar Siswa 

      Kesalahan belajar sering sekali dilakukan oleh para pelajar karena tidak memahami cara belajar yang baik. Kesalahan-kesalahan itu memiliki berbagai alasan, baik disadari maupun tidak disadari oleh seorang siswa yang bersangkutan. 
Belajar asal belajar saja, tanpa mengetahui untuk apa dan kompetensi apa yang hendak dicapai. 
Belajar tidak mempunyai motif yang asli (murni) atau belajar tanpa motif tertentu. 
Belajar dengan kepala kosong, tidak menyadari pengalaman-pengalaman masa lalu atau yang telah dimilikinya. 
Beranggapan belajar sama dengan menghafal. 
Mengartikan bahwa belajar semata-mata untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang sebanyak-banyaknya. 
Belajar tanpa ada konsentrasi pikiran. 
Belajar tanpa rencana dan melakukan kegiatan belajar asal ada keinginan yang bersifat insedental. 
Terlalu mengutamakan satu mata pelajaran dan menyepelekan pelajaran yang lain. 
Malas belajar bahasa asing atau malas membaca kamus. 
Malas berfikir. 
Belajar dilakukan apabila sudah mendekati ujian. 
Bersifat pasif dalam dalam kegiatan KBM, diskusi, dan belajar bersama. 
Banyak membuang-buang waktu di luar pelajaran. 
Membaca cepat tapi tidak faham isinya. 
Mengasingkan diri dalam belajar. 

B. Pelaksaan Belajar Mengajar, Jadwal Pelajaran, dan Guru-Guru Mata Pelajaran 

Ada tiga jenis guru yang harus di kenal di dalam proses pembelajaran, yaitu : 
Guru mata pelajaran yaitu guru yang mempunyai tugas memberikan materi pelajaran. 
Guru pembimbing, guru yang mempunyai tugas membimbing siswa untuk mengenal pribadi, lingkungan dan merencanakan masa depan, dalam hal ini guru bimbingan konseling (BK) yang berperan. 
Guru praktik, guru yang melatih siswa dalam keterampilan. 

C. Lingkungan dan Fasilitas yang Menunjang Kegiatan Belajar 

        Fasilitas yang ada disekolah harus bisa dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan pembelajaran. Masing-masing fasilitas yang ada tentunya memiliki fungsi yang berbeda-beda, tapi merupakan satu kesatuan dalam mewujudkan tujuan pendidikan. 

          Agar lingkungan dan fasilitas dapat menunjang kegiatan belajar, maka diperlukan kerjasama antar kepala sekolah, guru, tata usaha, pesuruh, dan siswa, di dalam memanfaatkan memeliharanya. 


D. Pengajaran, Perbaikan, Pengayaan dan Ketuntasan

         Dalam proses belajar mengajar, sering dijumpai siswa kurang berhasil menguasai pelajaran yang diberikan guru. Siswa yang belum mampu menguasai materi pelajaran yang diberikan gurunya, diupayakan untuk dilakukan perbaikan. Pengajaran pengayaan ini bisa diberikan kepada siswa dalam bentuk tugas-tugas, diskusi atau lain-lain sehingga siswa tidak merasa bosan menunggu temannya yang belum mencapai target. 

E. Perlunya Pengembangan Sikap Kebiasaan Belajar Yang Baik, Aktif, Dan Terprogram, Baik Sendiri Maupun Kelompok 

         Pengembangan sikap dan kerja sama yang dimaksudkan bahwa sikap dan kebiasaan belajar yang dikerjakan siswa akan dapat ditingkatkan lebih baik lagi, baik teknik maupun keteraturan waktunya. Siswa harus mempunyai 3 kesiapan saat menghadapi ujian yaitu : 
Kesiapan materi 
Kesiapan fisik 
Kesiapan mental/optimis 

F. Cara Belajar Diperpustakaan, Meringkas Buku, Membuat Catatan Dan Mengulang Pelajaran. 

        Tugas pokok siswa adalah belajar. Teknik-teknik yang tepat dibutuhkan dalam kegiatan membaca atau meringkas. 
Melihat daftar isi untuk memperoleh ide pokok maupun bagian-bagian 
Membaca secara keseluruhan sambil mencari pokok-pokok pengertian 
Pokok-pokok pengertian dicatat di dalam ringkasan 
Mengemukakan kembali pokok-pokok pengertian secara lisan, apabila terlupa melihat kembali catatan.

G. Motivasi Dan Konsentrasi Belajar Ketika KBM Berjalan Di Kelas/Sekolah 

          Motivasi atau konsentrasi sangat dibutuhkan dalam meraih cita-cita. Motivasi adalah usaha yang menyebabkan seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi pada diri sendiri. 
Menyadari perlunya pendidikan 
Memiliki cita-cita.
Memiliki keinginan 
Mengikuti perkembngan sains dan teknologi.
Merencanakan untuk masa depan Konsentrasi adalah pemusatan pikiran atau perhatian pada satu hal. 
     Adapun cara-cara berkonsentrasi adalah : 
Menyiapkan buku materi pokok dan buku penunjang yang akan dibahas 
Mempelajari materi yang belum diipelajari dirumah dan menandai hal-hal yang belum dimengerti 
Menyadari pentingnya setiap materi yang disampaikan guru di kelas 
Menanamkan dan menumbuh kembangkan rasa senang terhadap seluruh mata pelajaran termasuk guru yang menyampaikannya 
Memanfaatkan waktu

Kamis, 13 September 2012

Do’a Qunut Ketika Shubuh


“Doa qunut witir yang terkenal yang Nabi ajarkan kepada al Hasan bin Ali yaituallahummahdini fiman hadaita …tidak terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menggunakan doa tersebut untuk selain shalat witir. Tidak terdapat satupun riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi berqunut dengan membaca doa tersebut baik pada shalat shubuh ataupun shalat yang lain.
Qunut dengan menggunakan doa tersebut di shalat shubuh sama sekali tidak ada dasarnya dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan qunut shubuh namun dengan doa yang lain maka inilah yang diperselisihkan di antara para ulama. Ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat yang paling tepat adalah tidak ada qunut pada shalat shubuh kecuali ada sebab yang terkait dengan kaum muslimin secara umum.

Misalnya ada bencana selain wabah penyakit yang menimpa kaum muslimin maka kaum muslimin disyariatkan untuk berqunut pada semua shalat wajib, termasuk di dalamnya shalat shubuh, agar Allah menghilangkan bencana dari kaum muslimin.
Meski demikian, andai imam melakukan qunut pada shalat shubuh maka seharusnya makmum tetap mengikuti qunut imam dan mengaminkan doanya sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam rangka menjaga persatuan kaum muslimin.
Sedangkan timbulnya permusuhan dan kebencian karena perbedaan pendapat semacam ini adalah suatu yang tidak sepatutnya terjadi. Masalah ini adalah termasuk masalah yang dibolehkan untuk berijtihad di dalamnya. Menjadi kewajiban setiap muslim dan para penuntut ilmu secara khusus untuk berlapang dada ketika ada perbedaan pendapat antara dirinya dengan saudaranya sesama muslim. Terlebih lagi jika diketahui bahwa saudaranya tersebut memiliki niat yang baik dan tujuan yang benar. Mereka tidaklah menginginkan melainkan kebenaran. Sedangkan masalah yang diperselisihkan adalah masalah ijtihadiah.

Dalam kondisi demikian maka pendapat kita bagi orang yang berbeda dengan kita tidaklah lebih benar jika dibandingkan dengan pendapat orang tersebut bagi kita. Hal ini dikarenakan pendapat yang ada hanya berdasar ijtihad dan tidak ada dalil tegas dalam masalah tersebut. Bagaimanakah kita salahkan ijtihad orang lain tanpa mau menyalahkan ijtihad kita. Sungguh ini adalah bentuk kezaliman dan permusuhan dalam penilaian terhadap pendapat” (Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/12-13, pertanyaan no 772, Maktabah Syamilah).
Pada kesempatan lain, Ibnu Utsaimin mengatakan,

“Qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab syar’i yang menuntut untuk melakukannya adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah Rasul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah qunut shubuh secara terus menerus tanpa sebab. Yang ada beliau melakukan qunut di semua shalat wajib ketika ada sebab.
Para ulama menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut di semua shalat wajib jika ada bencana yang menimpa kaum muslimin yang mengharuskan untuk melakukan qunut. Qunut ini tidak hanya khusus pada shalat shubuh namun dilakukan pada semua shalat wajib.
Tentang qunut nazilah (qunut karena ada bencana yang terjadi), para ulama bersilang pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya, apakah penguasa yaitu pucuk pimpinan tertinggi di suatu negara ataukah semua imam yang memimpin shalat berjamaah di suatu masjid ataukah semua orang boleh qunut nazilah meski dia shalat sendirian.
Ada ulama yang berpendapat bahwa qunut nazilah hanya dilakukan oleh penguasa. Alasannya hanya Nabi saja yang melakukan qunut nazilah di masjid beliau. Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa selain juga mengadakan qunut nazilat pada saat itu.
Pendapat kedua, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah imam shalat berjamaah. Alasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan qunut karena beliau adalah imam masjid. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan shalat” (HR Bukhari).
Pendapat ketiga, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah semua orang yang mengerjakan shalat karena qunut ini dilakukan disebabkan bencana yang menimpa kaum muslimin. Sedangkan orang yang beriman itu bagaikan sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat ketiga. Sehingga qunut nazilah bisa dilakukan oleh penguasa muslim di suatu negara, para imam shalat berjamaah demikian pula orang-orang yang mengerjakan shalat sendirian.
Akan tetapi tidak diperbolehkan melakukan qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya karena perbuatan tersebut menyelisihi petunjuk Nabi.
Bila ada sebab maka boleh melakukan qunut di semua shalat wajib yang lima meski ada perbedaan pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya sebagaimana telah disinggung di atas.
Akan tetapi bacaan qunut dalam qunut nazilah bukanlah bacaan qunut witir yaitu“allahummahdini fiman hadaita” dst. Yang benar doa qunut nazilah adalah doa yang sesuai dengan kondisi yang menyebabkan qunut nazilah dilakukan. Demikianlah yang dipraktekkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika seorang itu menjadi makmum sedangkan imamnya melakukan qunut shubuh apakah makmum mengikuti imam dengan mengangkat tangan dan mengaminkan doa qunut imam ataukah diam saja?
Jawabannya, sikap yang benar adalah mengaminkan doa imam sambil mengangkat tangan dalam rangka mengikuti imam karena khawatir merusak persatuan.

Imam Ahmad menegaskan bahwa seorang yang menjadi makmum dengan orang yang melakukan qunut shubuh itu tetap mengikuti imam dan mengaminkan doa imam. Padahal Imam Ahmad dalam pendapatnya yang terkenal yang mengatakan bahwa qunut shubuh itu tidak disyariatkan. Meski demikian, beliau membolehkan untuk mengikuti imam yang melakukan qunut shubuh karena dikhawatirkan menyelisihi imam dalam hal ini akan menimbulkan perselisihan hati di antara jamaah masjid tersebut.
Inilah yang diajarkan oleh para shahabat. Khalifah Utsman di akhir-akhir masa kekhilafahannya tidak mengqashar shalat saat mabit di Mina ketika pelaksanaan ibadah haji. Tindakan beliau ini diingkari oleh para shahabat. Meski demikian, para shahabat tetap bermakmum di belakang Khalifah Utsman. Sehingga mereka juga tidak mengqashar shalat. Adalah Ibnu Mas’ud diantara yang mengingkari perbuatan Utsman tersebut. Suatu ketika, ada yang berkata kepada Ibnu Mas’ud,

“Wahai Abu Abdirrahman (yaitu Ibnu Mas’ud) bagaimanakah bisa-bisanya engkau mengerjakan shalat bersama amirul mukminin Utsman tanpa qashar sedangkan Nabi, Abu Bakar dan Umar tidak pernah melakukannya. Beliau mengatakan, “Menyelisihi imam shalat adalah sebuah keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)”

http://ustadzaris.com
(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/14-16, pertanyaan no 774, Maktabah Syamilah).

Rabu, 12 September 2012

Kapan Telunjuk Diangkat Saat Tasyahud



Nabi berisyarat dengan jari telunjuknya ketika tasyahud dan beliau berdoa dengannya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa isyarat dengan telunjuk itu dilakukan dalam dua kondisi yaitu saat mengucapkan syahadat dalam duduk tasyahud dan saat berdoa ketika itu.
Sebagian ulama lain mengatakan bahwa isyarat dengan telunjuk dilakukan dalam keseluruhan tasyahud, sejak awal tahiyat. Mereka beralasan bahwa tahiyat itu mukaddimah doa karena dia berisi sanjungan kepada Allah. Sedangkan mukaddimah doa itu bagian dari doa. Sehingga isyarat dengan jari telunjuk itu sejak awal tahiyat.
Siapa yang mempraktekkan pendapat pertama atau pun pendapat kedua maka dia berada dalam kebaikan.
Riwayat yang ada bisa dipahami menunjukkan bahwa ketika berisyarat dengan jari telunjuk itu jari telunjuk digerak gerakkan. Namun bisa juga dipahami bahwa jari telunjuk itu tidak digerak gerakkan.
Sehingga siapa yang memilih untuk menggerak gerakannya maka dia melakukan kebaikan dan siapa yang memilih untuk tidak menggerak gerakkannya maka dia juga melakukan kebaikan karena riwayat yang ada mungkin dimaknai menggerak gerakan dan mungkin dimaknai tanpa menggerak gerakkan.
Tanya jawab diatas versi arabnya bisa disimak pada menit 46:29 sampai 47:51 pada link berikut ini:
http://webalsalf.com/?songs=art&art=15&page=1&play=661#player

Senin, 10 September 2012

Durhaka Kepada Orang Tua


Kita mendapati bahwa orang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dianugerahi Allah anak-anak yang berbakti kepadanya. Adapun orang yang tidak berbakti kepada kedua orangtuanya, akan Allah berikan kepadanya anak-anak yang durhaka kepadanya.

Kisah Nyata

Ada sebuah kisah nyata yang dituturkan oleh seorang ibu. Ia berkata,  “…Suatu hari istri anak saya meminta suaminya (anak saya) agar menempatkan saya di ruangan yang terpisah, berada di luar rumah. Tanpa ragu-ragu, anak saya menyetujuinya. Saat musim dingin yang sangat menusuk, saya berusaha masuk ke dalam rumah, tetapi pintu-pintu terkunci rapat. Rasa dingin pun menusuk tubuh saya. Kondisi saya semakin buruk. Lalu, anak saya ingin membawaku ke suatu tempat. Perkiraanku ke rumah sakit. Akan tetapi, ternyata ia mencampakkanku ke panti jompo. Setelah itu, ia tidak pernah lagi menemui saya….” (Majalah As-Sunnah)

Pembaca mulia, penggalan kisah di atas merupakan masalah yang banyak terjadi di zaman kita. Tidak sedikit anak yang ketika kesuksesan duniawi telah ia raih, melupakan jasa-jasa orang tuanya yang telah bekerja keras membanting tulang untuk menyokong dirinya semenjak ia kecil. Banyak anak tidak ingat bagaimana dulu orang tua rela tidak tidur semalaman untuk menggendongnya, menjaganya, menyusuinya, sampai membersihkan ompolnya. Namun, jasa-jasa itu justru dibalas dengan menyerahkan orang tua ke panti jompo. Ini adalah salah satu bentuk kedurhakaan yang besar karena yang dibutuhkan orang tua kita adalah pelayanan kita justru di saat mereka sudah memasuki usia renta. Yang mereka butuhkan adalah perhatian kita dan kesiapan kita untuk menceboknya, mengeluarkan kotorannya, menemaninya, membantunya berjalan, dan menjaganya di saat tubuh mereka sudah lemah.

Kedudukan Berbakti Kepada Orang Tua

Islam telah mensyariatkan bahwa orang tua memiliki porsi tertinggi untuk diberikan pelayanan oleh seorang anak. Oleh karena itu, membuat kedua orang tua menangis adalah salah satu larangan yang harus dijauhi 

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah seraya berkata, ‘Saya datang demi berbaiat kepadamu untuk berhijrah, namun saya meninggalkan kedua orang tuaku menangis.’ Maka, Rasulullah bersabda, ‘Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau membuat keduanya menangis.’” (HR. Abu Dawud).

Pembaca mulia, ibu bapak merupakan sebab lahirnya kita di dunia ini. Oleh karena itu, perhatikanlah bahwa Allah telah menunjukkan besarnya hak orang tua dengan menggandengkan antara perintah untuk berbuat baik kepada keduanya dengan perintah untuk bertauhid kepada-Nya, sebagaimana dalam potongan surat Luqman, ayat 14 berikut ini, yang artinya. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu.” Dengan demikian, melakukan kedurhakaan kepada orang tua merupakan perbuatan keji dan termasuk dosa besar yang diancam dengan siksa neraka.

Dari Thoisalah rahimahullah, bahwasannya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,” Apakah engkau takut masuk dalam neraka?”. Aku berkata, “Iya”. Ia berkata, “Dan apakah engkau ingin masuk dalam surga?”. Aku berkata, “Iya” Ia berkata, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Aku berkata, “Ibuku bersamaku”. Ia berkata, “Demi Allah jika engkau lembut tatkala berbicara dengannya dan engkau memberi makan kepadanya maka engkau sungguh akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar” (Tafsir Ath-Thabari).

Bakti Kepada Orang Tua adalah Akhlak Salaf

Generasi awal Islam (salaf), merupakan generasi yang sangat menjunjung tinggi hak-hak orang tua mereka. Tidak bisa dihitung banyaknya kisah yang menggambarkan betapa besar bakti mereka kepada kedua orang tua.

Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Harga kurma naik melambung di masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan hingga 1000 dirham. Maka, Usamah bin Zaid pun pergi menuju pohon kurma yang ia miliki. Kemudian, ia melubanginya dan mengambil jantung kurma tersebut lalu ia berikan kepada ibunya. Orang-orang lalu berkata kepadanya, “Apa yang menyebabkan engkau melakukan ini padahal engkau tahu bahwa harga pohon kurma sekarang mencapai 1000 dirham?”, Usamah berkata, “Ibuku meminta jantung pohon kurma kepadaku dan tidaklah ia meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu kecuali aku penuhi permintaannya.” (Shifatus shafwah, Ibnul Jauzi)

Dari Musa bin ‘Uqbah rahimahullah berkata, “Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib tidak makan bersama ibunya padahal ia adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya. Lalu, ditanyakan kepadanya tentang hal itu. Maka, ia menjawab, “Aku takut jika aku makan bersama ibuku lantas matanya memandang pada suatu makanan dan aku tidak tahu pandangannya tersebut, lalu aku memakan makanan yang dipandangnya itu. Maka aku telah durhaka kepadanya.” (Risalah bir was Shilah, Ibnul Jauzi)

Besarnya Dosa Mendurhakai Orang Tua

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dosa-dosa besar adalah berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa serta sumpah palsu.” (HR. Bukhari). Perhatikan hadits di atas. Rasulullah menempatkan dosa durhaka kepada orang tua setelah dosa syirik, dan sebelum dosa membunuh jiwa. Maka, bisa kita bayangkan betapa besar dosa ini.


Batasan Durhaka kepada Orang Tua

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil” (Q.S. Al-Isra`: 23-24).

Dari ayat di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa sekadar ucapan “ah” yang notabene hanya pengingkaran lisan saja sudah termasuk perbuatan durhaka kepada orang tua. Maka, bagaimana dengan yang lebih besar dari itu?

Syaikh Taqiyyuddin As-Subki berkata, “Defenisi durhaka adalah menyakiti (mengganggu) kedua orangtua dengan jenis gangguan apa saja, baik tingkatan gangguan tersebut rendah atau tinggi, mereka melarang gangguan itu atau tidak, atau sang anak menyelisihi perintah mereka berdua atau larangan mereka berdua dengan syarat (perintah atau larangan mereka) bukanlah kemaksiatan.” (Dinukil dari Umdatul Qori)

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (dalam buku Berbakti kepada Kedua Orang Tua) mengurai bentuk-bentuk durhaka kepada kedua orang tua sebagai berikut:

[1] Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati. [2] Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua. [3] Membentak atau menghardik orang tua. [4] Bakhil. Tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan. [5] Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ‘kolot’ dan lain-lain.

[6] Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Akan tetapi, jika ‘si Ibu” melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih. [7] Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua. [8] Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll. [9] Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah. [10] Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Berbakti kepada Orang Tua dapat Menghapus Dosa Besar

Dari ‘Atha` bin Yasar dari Ibnu Abbas, “Bahwasanya ada seorang laki-laki menemuinya dan berkata, “Aku melamar seorang wanita dan ia menolak untuk menikah denganku. Lalu datang orang lain melamarnya, ia mau menikah dengannya. Maka, aku pun cemburu dan aku bunuh wanita itu. Apakah aku masih bisa bertaubat?” Ibnu Abbas berkata, “Apakah ibumu masih hidup?” Laki-laki itu berkata, “Tidak”. Ibnu Abbas berkata, “Bertaubatlah engkau kepada Allah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah sekuat Engkau”. Lalu, pergilah orang itu dan aku pun (Atha` bin Yasar) bertanya kepada Ibnu Abbas mengapa ia menanyakan apakah ibu orang tersebut masih hidup.” Ibnu Abbas berkata, “Aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang lebih dekat kepada Allah daripada berbakti kepada ibu” (HR. Bukhari dalam  Al-Adab Al-Mufrod )

Jika Ayah Mengambil Harta Anak

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak, dan ayahku ingin untuk mengambil seluruh hartaku”. Maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam berkata, “Engkau dan hartamu itu milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah).

Oleh karena itu, Imam Ahmad menyatakan bolehnya ayah untuk mengambil harta anaknya sesukanya dalam keadaan butuh ataupun tidak butuh, baik sedikit ataupun banyak dengan tiga syarat: [1]. Tidak memberikan mudharat bagi sang anak dan tidak mengambil harta yang berkaitan dengan kebutuhan sang anak. [2]. Tidak mengambil harta anaknya kemudian diberikan kepada anaknya yang lain. [3]. Sang ayah tidak menghambur-hamburkan harta tersebut dan tidak berbuat mubadzir [*Dalam Islam, menunaikan hak orang tua lebih didahulukan daripada menunaikan hak istri]

Penutup

Demikianlah sedikit risalah ringkas yang penulis berharap dapat bermanfaat bagi para pembaca mulia. Sebagai nasehat penutup, penulis nukilkan dengan bahasa bebas perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “… Allah akan memberi ganjaran kepada anak yang berbakti kepada orang tua di dunia sebelum Allah memberi ganjaran kepadanya di akhirat. Oleh karena itu, kita mendapati –berdasarkan apa yang telah kami dengar dan kami lihat- bahwa orang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dianugerahi Allah anak-anak yang berbakti kepadanya. Adapun orang yang tidak berbakti kepada kedua orangtuanya, akan Allah berikan kepadanya anak-anak yang durhaka kepadanya.” (Fatwa Ibnu Utsaimin, Al-Washoya Al-‘Asyr). Untuk pembahasan lebih luas, silakan lihat seri artikel tentang Berbakti kepada Orang Tua di situs www.firanda.com. [Penulis: Ginanjar Indrajati B.*]

*Penulis adalah alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta, staf pengajar Ma’had Umar bin Khattab, menggeluti dakwah di dunia maya. Beliau sedang menyelesaikan program studi S1 Sastra Arab di UGM

Minggu, 09 September 2012

Nikmat Persaudaraan


Sebagai seorang muslim, kita hendaknya senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah ta’ala berikan kepada diri kita. Demikian pula, kita harus mensyukuri nikmat yang Allah ta’ala curahkan kepada kaum muslimin yang berkaitan dengan agamanya. Di antara sekian banyak nikmat tersebut adalah nikmat ukhuwah (persaudaraan) antar kaum muslimin di atas agama Islam ini…

Semestinya kita semua mengetahui bahwa salah satu faktor pengokoh agama Islam ini adalah jalinan persaudaraan yang erat antar pemeluknya. Jalinan persaudaraan yang dibangun karena Allah dan di atas jalan-Nya merupakan sesuatu yang jarang ditemukan belakangan ini. Tak sedikit kaum muslimin melupakan hal ini. Akibatnya, tak jarang kita jumpai perselisihan dan pertikaian tersebar di tengah-tengah. Padahal, persaudaraan yang dibangun karena Allah dan di atas jalan-Nya akan mendatangkan banyak keutamaan. Semoga pembahasan yang singkat ini memberi petunjuk pada kaum muslimin untuk semakin mengokohkan tali persaudaraan di antara mereka.

Persaudaraan, buah manis keimanan

Sifat dasar yang Allah anugerahkan kepada kaum mukminin adalah saling bersaudara. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saling bersaudara, karena itu damaikanlah dua saudaramu yang tengah bertikai dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian diberi rahmat”. (QS. Al Hujurat: 10)

Asy Syaikh As Sa’di berkata menafsirkan ayat di atas,

هذا عقد، عقده الله بين المؤمنين، أنه إذا وجد من أي شخص كان، في مشرق الأرض ومغربها، الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، فإنه أخ للمؤمنين، أخوة توجب أن يحب له المؤمنون، ما يحبون لأنفسهم، ويكرهون له، ما يكرهون لأنفسهم

“Ayat ini merupakan ayat yang Allah ta’ala turunkan untuk mengikat persaudaraan di antara kaum mukminin. Sesungguhnya apabila seorang mukmin mendapati orang lain di manapun dia berada, meskipun di ujung timur ataupun di ujung barat, selama dia beriman kepada Allah, para malaikat-Nya,kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir, maka dia adalah saudara bagi kaum mukminin yang lain. Mereka wajib mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri dan membenci keburukan untuk saudaranya sebagaimana yang mereka benci untuk diri mereka sendiri…” (Taisirul Karimir Rahman).

Persaudaraan di antara kaum muslimin akan tumbuh seiring tumbuhnya keimanan yang benar di dalam dada mereka.  Persaudaraan tersebut nantinya akan melahirkan rasa cinta dan kasih sayang di tengah-tengah mereka sehingga kaum muslimin seolah-olah berada dalam satu tubuh yang apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan merasakan sakit pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang sesama mereka adalah bagaikan satu tubuh yang bila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit maka seluruh anggota tubuh yang lain tidak dapat tidur dan selalu merasa panas”. (HR. Muslim)

Contoh terbaik tentang persaudaraan dapat kita jumpai pada zaman Nabi dan para shahabat. Salah satunya adalah riwayat dalam shahih Bukhari dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum Anshar setelah peristiwa hijrah ke Madinah. Salah satu yang beliau persaudarakan adalah Abdurrahman bin Auf (muhajirin) dan Sa’ad bin Ar-Rabi’ (Anshar). Sa’ad bin Ar-Rabi’ kemudian menawarkan hartanya untuk dibagi dua kepada Abdurrahman bin Auf sebagai saudaranya. Tak hanya itu, beliau yang memiliki dua istri juga menawarkan salah satu istrinya untuk dicerai kemudian dinikahkan kepada Abdurrahman bin Auf (setelah masa ‘iddah selesai). Akan tetapi, Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan halus dan lebih memilih untuk ditunjukkan letak pasar supaya beliau dapat berdagang di sana dan akhirnya beliau memperoleh keuntungan yang berlipat ganda.

Lihatlah, bagaimana buah jalinan persaudaraan yang erat antar kedua sahabat Nabi tersebut sampai-sampai Sa’ad bin ar Rabi’ tidak merasa berat sedikitpun untuk membagi dua hartanya dan menceraikan salah satu istrinya untuk diberikan pada saudaranya, Abdurrahman bin Auf.

Para pembaca rahimakumullah, persaudaraan diibaratkan sebuah bangunan yang akan semakin kokoh jika kita senantiasa menjaga dan merawatnya dan akan semakin retak jika kita tidak mampu merawatnya. Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas.

Sebab-sebab kokohnya persaudaraan

1. Saling menebarkan salam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُم

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan tidaklah sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu amalan yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!” (HR. Muslim).

والسلام أول أسباب التألف ومفتاح استجلاب المودة وفى افشائه تمكن ألفة المسلمين بعضهم لبعض

Ucapan salam adalah awal bersatunya hati, dan pintu utama rasa kasih sayang. Dan pula, dengan tersebarnya salam maka akan terwujud kesatuan hati antara kaum muslimin. (Lihat Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi)

2. Saling berkunjung

Saling berkunjung merupakan amalan yang utama karena dapat menumbuhkan benih-benih cinta di antara kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من عاد مريضا أو زار أخا في الله ناداه مناد أن طلبت وطاب ممشاك وتبوأت من الجنة منزلا

“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudaranya karena Allah, dia akan diseru dari atas ‘Engkau telah berbuat baik dan telah baik pula perjalananmu. Engkau telah menyiapkan tempatmu di surga’” (HR Tirmidzi, hasan).

3. Saling memberi hadiah

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR Bukhari dalam Al Adabul Mufrod, hasan).

Dengan saling memberi hadiah, akan terjalin kedekatan hati sehingga tumbuhlah rasa saling mencintai di dalam sanubari. Namun, seseorang yang memberi hadiah terkadang bisa menyakiti hati orang yang diberi hadiah dengan dia selalu mengungkit-ungkit pemberiannya. Hal ini justru dapat merusak persaudaraan. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (perasaan yang menerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir……” (QS Al-Baqarah : 264).

4. Menjenguk orang sakit dan mengiringi jenazah orang yang meninggal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ رَدُّ السَّلاَمِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ

“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam –Rasulullah menyebutkan di antaranya- : jika ia sakit, engkau menjenguknya dan jika ia meninggal dunia, engkau iringi jenazahnya.” (HR Muslim)

Menjenguk saudara kita yang sakit dan mengiringi jenazah orang yang meninggal akan membuat dirinya atau keluarganya merasa tenang dan terhibur atas musibah yang tengah di alaminya.

5. Saling mendoakan kebaikan

Mendoakan saudara kita banyak keutamaannya. Selain mempererat persaudaraan, malaikat juga akan mendoakan hal yang sama untuk kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang hamba muslim yang mendoakan (kebaikan) untuk saudaranya yang tidak sedang bersamanya kecuali malaikat berkata ‘Semoga engkau mendapat yang semisalnya’” (HR Muslim).

6. Saling menasehati

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat”. (HR Muslim)

Nasehat merupakan salah satu cerminan persaudaraan di antara kaum muslimin karena tujuannya adalah menghendaki kebaikan bagi orang yang dinasehati (bisa dibaca kembali buletin edisi pekan lalu). Jika kaum muslimin saling menasehati dengan baik, niscaya keberkahan akan turun di tengah-tengah mereka. Umar ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,

لا خير في قوم ليسوا بناصحين ولا خير في قوم لا يحبون الناصحين

“Tidak ada kebaikan pada suatu kaum yang tidak menegakkan nasehat dan tidak mencintai orang-orang yang memberikan nasehat”. (Mawa’izhus Shahabah karya Shalih Ahmad Asy-Syami)

Masih banyak sebab-sebab kokohnya persaudaraan yang lain.Diantaranya saling memberi maaf, saling tawadhu, baik sangka (husnuzhan),  dan lain-lain.

Sebab-sebab retaknya persaudaraan

Di antara penyebab retaknya persaudaraan yaitu,

1. Hasad (iri)

Hasad adalah seseorang yang menginginkan hilangnya nikmat yang tengah dirasakan saudaranya. Mayoritas hasad timbul dalam masalah-masalah duniawi. Sangat jarang dijumpai seorang yang hasad kepada puasanya orang lain, shalat malamnya, ataupun kepada ibadah-ibadah lainnya (lihat Ath Thibbur Ruhani karya Ibnul Jauzi). Oleh karena itu, seseorang yang sedang hasad kepada saudaranya akan berusaha keras agar nikmat tersebut hilang dari saudaranya.

2. Marah

Jika pangkal dari tumbuhnya persaudaraan adalah rasa cinta, maka pangkal dari retaknya hubungan persaudaraan adalah amarah dan kebencian. Umumnya, sebab kemarahan adalah kesombongan karena manusia tidak akan bisa marah kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya (lihat Ath Thibbur Ruhani). Dia hanya bisa marah terhadap orang yang sederajat atau lebih rendah kedudukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dari kedua akhlak buruk ini (hasad dan marah) dalam sabdanya,

لا تباغضوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا

“Janganlah saling marah, saling hasad, dan saling membelakangi! Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara….”. (Muttafaqun ‘alaih)

3. Ghibah (menggosip) dan namimah (mengadu domba)

Lidah manusia memang kecil, namun ternyata dapat mencerai-beraikan persaudaraan kaum muslimin. Sementara ghibah diibaratkan oleh Allah ta’ala dengan memakan bangkai saudaranya yang dighibah (lihat QS Al Hujurat: 12), namimah menyebabkan pelakunya mendapat adzab kubur bersama orang yang tidak menutup diri ketika buang air kecil (HR Bukhari). Sungguh, betapa banyak persaudaraan yang telah terputus disebabkan lidah ini!

4. Perbuatan dosa dan maksiat

Perbuatan dosa dan maskiat adalah penyakit berbahaya yang semestinya kita berlindung kepada Allah dari keduanya. Apabila salah satu dari dua orang yang bersaudara melakukan perbuatan dosa dan maksiat, salah satu akibatnya adalah persaudaraan di antara keduanya dapat merenggang baik itu dosa sesama manusia atau kepada Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما تواد اثنان في الله جل وعز أو في الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب يحدثه أحدهما

”Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah kemudian keduanya dipisahkan dari persaudaraan melainkan karena dosa yang diperbuat oleh salah satu dari keduanya” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, Shahih)

Masih banyak lagi penyebab retaknya persaudaraan di tubuh kaum muslimin yang lainnya, seperti buruk sangka, mencari-cari aib, zhalim, dan lain sebagainya. Yang kami sebutkan hanya sebagian secara ringkas mengingat keterbatasan tempat. Semoga yang sedikit ini dapat memberi manfaat kepada kaum muslimin.

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan. Dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penayntun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10)

Wallahu a’lam bish shawab. [Arif Rohman Habib]